TUHAN GENDUT

Manusia tercipta lemah. Aku tak mengerti kenapa tuhan mencipta makhluk yang katanya termulia ini sebagai makhluk yang lemah. Apakah karena tuhan takut manusia akan menggoncang Arsy-Nya jika mereka tercipta kuat? Ahh,, tak mungkin! Kalian pi

kir Tuhan itu pengecut seperti Raja gendut yang selalu ketakutan siang malam, memikirkan gudang gandum hasil merampas keringat rakyat kecil. Takut rakyat akan merebutnya kembali. Tuhan tidak gendut!
Aku pun lemah. Tak lebih kuat dari kapas yang lunglai terbang terbawa angin panas kemarau. Terkadang ku dibawanya ke kubangan hitam berbau busuk, menyeramkan. Meski awalnya ku kira itu taman cemara hijau nan rindang. Kadang-kadang angin sejuk membawaku menuju sungai madu. Manis, sejuk, penuh teka-teki. Katanya surga seperti ini. Surga yang tak pernah menampakkan batang hidupnya meski dalam hayal.
Tubuh lemah yang sakit. Berjalan bersama rombongan senasib. Banyak yang berkata perjalanan ini adalah perjalanan menuju tuhan. Tapi ku lihat sebagian mereka menyembah kertas ber-angka, sebagian ku lihat memuja kursi emas bertahta. Sebagian lain bersujud menciumi kaki wanita. Lalu tuhan itu yang mana?
Ya, aku yang sakit. Tak kunjung sembuh bahkan mereda pun tidak.
Kata seorang bergaya nabi itu, “Tuhan tak menciptakan penyakit kecuali ada obatnya.”
Mungkin saja. Tapi ku belum menemukan obatku. Sakit apa saja aku tak mengerti.
Coba ku ceritakan rasa sakitku. Mungkin anda tau obatnya!
Ketika fajar mengintip, dunia mulai bangun kembali. Mataku pun ikut menyambut hari baru. Semua terasa sama dengan hari sebelumnya. Sinar mentari, suara ayam berkokok, suara kambing yang menanti ajal, sarapan pagi, tak ada yang special. Tapi anehnya, walau sinar mentari menyilaukan mata tapi mata hati tak merasakan cahaya. Itu penyakitku yag pertama.
Ketika lelah memeluk tubuh lemah ini. Akalku berteriak ! untuk apa ku lakukan semua ini? Untuk apa ku beli lelah hanya untuk? Untuk apa? Untuk siapa?
Apa yang selama ini ku lakukan? Berkhidmatkah? Sukarelawankah? Untuk siapa?
Atau jangan-jangan untuk sesuatu yang tak terlihat itu?
Ahh,, Omong kosong !!
Jangan pernah kau lakukan sesuatu untuk yang tak terlihat. Bukankah kekasih-Nya pernah berkata, “bagaimana aku menyembah hal yang tak ku lihat?”
Itu penyakit keduaku. Aku tak tau semua ku lakukan untuk siapa. Semua ini sia-sia. Karena aku belum pernah melihatnya. Dia yang katanya terlihat bagi sebagian mata, tapi aku tak pernah melihatnya. Atau aku belum punya mata?
Mungkin.
Sampai disini ku tak bisa berkata lagi. Penyakit semakin menggerogoti.
Penyakit mata hati, rindu cahaya sejuk dari matanya.
Selama ini ku lakukan segalanya untuknya. Untuk dia yang belum ku lihat. Belum ku lihat. Bukan tak terlihat.
Aku tak meminta apapun. Tak menginginkan apapun.
Jika boleh ku berharap, aku hanya ingin menatap wajahnya yang ku nanti sejak fajar hingga gelap tiba. Agar aku tau, kau tak pernah membiarkan aku sendiri sia-sia. Ku lakukan semua ini untukmu Ya Maulaya.
Setelah cahaya wajahmu mengobati sang mata, aku silahkan pada pencabut nyawa tuk ambil semua yang ku punya. Karena sakitku telah tiada, karena memandangnya adalah bahagia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s