Rindu Ayah (versi cerpen)

Malam ini hujan menemani. Tak seperti biasanya. Malam-malamku hanya berteman sepi. Aku rindu tetesan lembut itu. Tetesan dingin air hujan. Menetes berirama. Menghibur hatiku yang gundah. Sama rasanya seperti rinduku kepada ayah. Rindu kecupan bibirnya di dahiku. Rindu belaian hangatnya. Rindu tawanya. Rindu kata-kata lembutnya. Rindu nafasnya yang menyejukkan hati. Rindu panggilannya yang membuatku merasa ada didunia ini. Rindu kasih dan sayangnya. Rindu tetesan air hangat dipipinya ketika malam mulai mendingin. Rindu namanya. Rindu ayah.

¤Beloved-Father

Hari itu begitu dekat. Hari yang ku tunggu sejak 3 taun terakhir ini. Aku bosan dengan ejekan “anak kecil” yang setiap hari kudengar hanya gara-gara seragam putih-biru yang masih melekat di tubuh mungilku. Ya, masa-masa SMP yang membosankan.

Ujian akhir tinggal sejengkal lagi. Dalam hitungan jari aku kan segera melempar seragam biru-putih ini. Tapi mungkin seragam ini akan kuberikan kepada orang yang tak mampu. Karena aku tak didik seperti mereka yang suka coret-coret seragam. Nilai akademik mereka hangus karena mereka tak punya otak. Membuang baju hasil keringat orang tua. Bodoh!

Aku tak sebodoh mereka.

Otakku mulai mendidih. 3 bulan ini serasa tiga taun. Belajar siang malam. Kalo boleh jujur, semua itu ku lakukan karena paksaan guru. Mungkin mereka tak pernah belajar psikologi anak dan cara belajar yang baik. Harusnya, belajar yang baik harus di mulai dalam kondisi alfa. Rileks. Tanpa beban.

Aku tak mengerti. Apakah guru-guru itu tau, atau pura-pura tak tau. Mereka tetap saja memaksa anak kelasku untuk belajar dan belajar. Padahal tak satu pun pelajaran yang masuk ke otakku. Mereka sama bodohnya dengan si anak tukang coret.

B-O-D-O-H ! ! !

Hari itu tinggal dua hari lagi. Untung saja mereka memberiku hari tenang untuk mendinginkan kepalaku yang mendidih ini. Ohh nikmatnya!

Soal-soal latihan itu kulupakan sejenak. Aku ingin meresapi hari-hari santai yang lama tak kutemui sejak 3 bulan ini. Indahnya bulan malam!

2 hari yang begitu indah. Aku merengek pada adikku agar dia meminjami video gamenya, “kakak janji hanya untuk 2 hari ini saja, nanti kamu aku beliin mainan deh.” Dengan muka kesalnya dia terpaksa meminjamiku. Ohh senangnya!

Setelah mataku mulai bosan dengan gambar bergerak itu. Aku keluar, menikmati buaian angin. Memanjakan mataku dengan bintang berbaris. Membeli ice cream termahal saat itu. MAGNUM!

Hari itu seakan aku menjadi pemeran iklan yang menikmati hari bahagia bersama lelehnya coklat di lidahku. Ohh bahagianya!

Aku pulang dengan senyum lebar. Bersyukur atas kebahagiaan yang diberikan tuhan hari ini.

Kurebahkan tubuh ini di tempat yang paling kucintai. Kasurku. Aku ingat saat itu aku masih tersenyum. Kemudian suara ketukan pintu mengganggu senyumanku. Aku bangkit dan bertanya, “siapa ya?”, suara dari seberang pintu menjawab lembut, “mama nak..”

Ku buka pintu, aku masih dalam senyumanku. Ingat! Masih dalam senyuman.

S-E-N-Y-U-M-A-N

Ku buka pintu dan kulihat wajah cantik itu murung. Seketika itu air wajahku berubah, “kenapa ma? Kok murung gitu?” Wajah itu menjawab dengan senyum bohongnya, “Gpp nak… Ayo ganti baju cepet, kita kerumah sakit. Ayah mu agak gak enak badan.” Aku terdiam, “Ayah kenapa ma?” Senyum itu menjawab lagi, “Gpp kok, sakit biasa”.

Aku langsung bergegas. Lupa kata senyum, kata indah, bahagia, senangnya hari ini, aku lupa semua.

Dinginnya AC mobil membuat memoriku melayang entah kemana. Aku hanya ingat ketika dia datang di malam pekat, sementara aku sedang berbaring mengintip, berpura-pura terlelap. Dia datang dan menghidupkan lampu kamarku, dia berkata, “aku tahu kau belum tidur” dengan senyum jenakanya, aku pun tertawa, kemudian bibir mungilku bertanya, “kok tau?” dia pun menyahuti, “mana mungkin aku tak tau tentang belahan jiwaku” aku pun terbahak tanpa pernah berpikir apapun. Malam ini telah merubah hari bahagia ku. Kali ini aku hanya takut. Takut tawa jenaka itu akan hilang dan berakhir.

Tapi aku tetap tersenyum. Tapi tak seperti senyum yang tadi. Aku masih bisa tertawa tapi tak seperti tawa yang dulu. Aku masih bisa berbesar hati, karena ku pikir ayah terkena penyakit biasa.

Akhirnya ku beranikan diri tuk bertanya, “ayah sakit apa?” Suara yang tak seperti biasanya itu menjawab, “tumor nak…” Tiba-tiba tenggorokanku terasa tersedak, tak bisa bernafas. Tapi aku tetap tersenyum, tapi tak seperti senyum sebelumnya. Aku menjawab enteng tuk membesarkan ahti ayah, “Ooo, tenang aja yahh.. Tinggal di operasi, beres deh..”

Aku keluar dari ruang inap itu dengan senyuman, namun tak seperti senyum yang dulu. Aku harus pulang malam itu. Besok aku harus datang pagi-pagi ke kebun raya, untuk ikut out bound bersama untuk merileks-kan otak sebelum ujian. Hanya satu yang ku tangkap dalam acara itu. Aku harus selalu positif thinking. Harus!

2 hari setelah kedatanganku yang pertama. Aku kembali datang kerumah sakit. Aku tak tau, hari itu aku benar-benar rindu ayah. Aku sempat berpikir macam-macam. Tapi aku teringat, harus berpikir positif. Harus!

Hari itu pikiran positifku tak begitu membantu. Ternyata ayah berbohong waktu itu. Bukan tumor yang ada di tubuhnya. Tapi kanker. Penyakit yang ditakuti semua orang. Untuk yang kedua kalinya aku seakan tersedak tak bisa bernafas. Dengan sisa nafasku aku bertanya, “Stadium berapa?” Wajah layu ibuku menjawab, “Masih stadium 1 nak..”. Tangan hangatnya membelai rambutku. Aku mulai bisa bernapas. Aku tersenyum. Berpikir positif. Hanya stadium satu. Pasti mudah disembuhkan. Tapi tak seperti senyum yang sebelumnya.

Lagi-lagi aku harus pulang malam itu. Aku harus menemani adik-adik yang masih kecil. Sementara ibu harus menemani ayah selalu.

Aku sampai dirumah kecilku. Menatap langit. Kenapa tak ada bintang malam ini???

Hatiku berteriak dalam senyum bibirku didepan adik-adikku. “Insya Allah besok ayah kita bisa pulang dek, sekarang tidur yaa…”.

Aku terlentang melihat atap yang seakan ingin memeluk menghibur. Mata ku masih mengingat kejadian malam tadi. Ketika aku dan adik-adikku menjenguknya. Dia dengan tangannya yang lemah berusaha menggendong adikku yang paling kecil di atas tubuhnya. Dia tertawa, sedang diriku tersenyum. Senyum berbalut hati yang miris. Takut semua ini berakhir dan hilang. Tiba-tiba ia memegang tangank, dan meletakkannya diatas tangan ibuku. Ia bergumam tak jelas. Aku yang tak mengerti hanya mengangguk saja, tak tahu harus berkata apa.

Mata ku mulai terpejam. Hanya gelap yang terlihat. Sambil sesekali wajah ayah mengintip di ujung sana. Aku berlari. Berlari menghampiri ayah. Tapi ayah bersembunyi. Sekali lagi aku melihatnya semakin jauh. Mengintip mengayunkan tangan. Memanggil buah hatinya yang sedang gundah ini. “Ayaah… Jangan maen petak umpet gini dong… Aku sudah capek berlari.”

¤

Hujan semakin deras. Tetesan berubah menjadi air lebat. Seakan langit sedang menangis keras. Guntur tak ingin terlambat menyumbangkan sedihnya. Aku tetap duduk di samping jendela. Tersenyum. Tapi tak seperti senyum yang dulu.

Suara pintu terbuka tak merubah lamunanku. Tangan yang kukenal itu mulai menghangatkan kepalaku yang dingin. “Nak, apakah kau tak malu terhadap pohon. Berulang kali kehilangan daunnya, tapi tak pernah putus asa. Kau hanya kehilangan nafasnya. Bukan hatinya, bukan pula ruhnya. Dia selalu ingin melihatmu tersenyum seperti dulu. Apakah kau tak ingin melihatnya tersenyum setelah dia merasakan sakit yang merenggut nyawanya?”

¤

Suara telpon terdengar keras mengagetkan mimpiku bertemu ayah. Aku terbangun. Menatap layar. Pamanku menelpon, “Cepat kesini sekarang!”

Aku berlari menghantam pintu kamar sopirku. “Pak, ayo cepet!!! Kita ke rumah sakit sekarang!!”

Dinginnya AC tak terasa menusuk. Panasnya hati mengalahkan segala rasa. Perjalanan ini terasa lama. Aku hanya ditemani rasa cemas dan gelisah.

Aku sampai didepan koridor rumah sakit. Aku terdiam. Terdiam melihat orang-orang yang menangis. Terdiam melihat syahadat yang tak putus-putusnya dilantunkan. Terdiam. Tersenyum. Tapi kali ini senyumku menahan tangis. Hatiku berteriak. Tangisku hampir pecah. Tapi wajah ayah terlintas di benakku. Wajah yang selalu melarangku tuk menangis. Aku tak boleh menangis!

Aku tak melanjutkan langkahku menuju kamar ayah. Aku berlari keluar. Aku berlari. Mencari dimana dia. Dimana? Mereka yang selau mengharap uluran tangan orang-orang mampu. Dimana mereka? Aku butuh mereka sekarang. Aku ingat betul, sedekah dapat memperpanjang umur.

Dan kata-kata itu tak pernah dusta. Ku dapati keluargaku mulai tenang setelah aku kembali ke ruang ayahku. Ayahku masih hidup. Aku tersenyum. Tapi tak seperti senyuman yang dulu.

Ku ingat sekali waktu itu. Saat ku belai wajah pucatnya. Saat hatiku teriris melihat bibirnya yang mulai pecah dan tak berwarna. “Ayah ngliat apa?” Matanya tak bergerak, mulutnya diam membisu. “Orangnya tinggi besar ya yah?” Wajah lemahnya hanya mengangguk. “Pake baju putih ya?” tanyaku polos. Dan ia pun mengangguk lagi. “Orangnya berjenggot yah?” Kali ini ia tidak mengangguk. Wajahnya menoleh kepadaku. Menatap dalam mata lesu ku. Aku tak kuat lagi. Aku tak bisa tersenyum. Air hangat itu telah membasahi pipi mungilku. Aku berlari ke toilet. Kau tak tau kenapa. Antara malu dan takut kurasa.

Aku kembali dengan mata berair. “Ayah, orangnya masih ada?” Kau menggeleng dan tersenyum. Ohh, senyum yang kurindu akhir-akhir ini. Aku pun mulai bercerita banyak hal. Semua kuceritakan. Tak ingin satupun ceritaku tertinggal. Ingin kuluapkan kerinduanku selama ini. Kau hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Bukan karena senang, tapi karena kanker itu telah merusak rongga THT-mu.

¤

Hujan mulai reda. Langit mulai terang kembali. Gemuruh itu perlahan hilang. Aku menoleh ke wajah tabah bundaku. Tak ada seorang pun hari ini yang membuatku merasa ada. Selain bundaku tercinta. “Maafkan aku bunda, mala ini aku benar-benar rindu kepada ayah.”

¤

Aku ingat sekali, hari itu hari sabtu. Pagi sekali aku sudah bersiap untuk kembali menjenguk ayah. Aku pun menelpon bunda, “Bun, aku kesana ya?”. Suara di seberang menjawab, “Gag perlu sayang, ayahmu sudah membaik kok. Semua organnya udah normal, gak ada yang lumpuh lagi. Udah bisa ngomong, segala macem deh. Kata dokter besok bisa pulang. Kamu sama adek-adek tunggu dirumah aja yaaa”.

Hari itu aku tersenyum. Senyum yang dulu. Yang lama tak pernah kurasakan. Hatiku berbunga-bunga bagai gurun tersapu sejuknya embun. Ayah besok pulang.

Wajah ceriaku kembali tampak. Senyumku yang dulu. Tawa ku yang lama hilang. Semua kembali. Dan semua pergi di pukul 19.45 tepat. Saudaraku menelpon. “Dijemput sekarang”. Aku menjawab, “Ada apa? Oke deh”. Telpon itu langsung ditutup dan aku tak berpikir apapun.

Mobil berjalan tenang menyusuri jalanan macet ibu kota. Rumah sakit yang sangat kukenal mulai tampak. Aku berjalan santai menyusuri koridor. Melewati kamar-kamar pasien. Aku merasa semua sedang berbahagia karena sanak keluarganya mulai membaik. Sama halnya denganku. Ayahku besok akan pulang.

Ternyata aku salah, kamar ayahku tak seperti kamar lainnya. Aku melihat dari kejauhan, pamanku berdiri mematung. Matanya terlihat kosong. Aku hampiri dia. Dia yang selalu tersenyum saat bertemu ponakan kesayangan ini, kini berbeda. Dia diam. Matanya sembab. Memelukku erat. “Ayahmu meninggal.”

¤

Guntur tiba-tiba kembali bergejolak. Hujan sontak mengguyur deras. Bundaku tetap berdiri disampingku. Tetesan hangat itu mengenai wajahku. Aku diam. Aku tak bisa melihat orang yang paling kusayangi menangis. Karena ayahku tak suka melihatnya. “Bun, ayah tak suka melihat orang yang disayanginya menangis. Bunda mau ngliat ayah sedih?”

¤

Kau tau ayah? Aku histeris saat itu. Aku berteriak layaknya orang gila. Sepanjang koridor ucapanku menceracau. Aku benar-benar hancur saat itu. Pikiranku kosong. Terlebih saat ku melihat sesosok tubuh yang tertutupi kain putih. Sumpah demi Tuhan duhai ayah, saat itu aku mengaharap bukan kau dibalik kain putih itu. Ternyata saat ku singkap kain putih itu. Hatiku hancur. Benar-benar hancur. Mimpi-mimpi yang dulu sering kita bicarakan telah hilang tak bersisa. Rencana-rencana masa depan yang kau impikan. Seketika itu menjadi butiran debu. Aku meratap di samping tubuhmu. Kupeluk dirimu. Ayahku, apa yang harus kulakukan? Sedang penopang hidupku adalah dirimu. *

Ingatkah kau ayah?

Kau memelukku. Menggendongku. Menuntunku. Mengajariku. Dan semua kasihmu yang tak mungkin pernah ku lupa.

Ayah, ingatkah kau? Bahwa kau selalu ingin menuntunku hingga ku dewasa. Dan saat itu, aku lah yang akan menuntunmu, memegang lembut tanganmu , membelai halus rambut putihmu, menikmati senyum di wajahmu yang penuh keriput, tanda akan banyaknya kepahitan hidup yang telah kau hadapi.

Namun, itu hanya hayal belaka saat ini!

Tangan yang dulu kuciumi, dahi yang selalu kukecup di kala pagi, hanya sisakan kenangan yang begitu manis.

Demi Tuhan duhai Ayahku! Kaulah guru kehidupan bagiku, pengayomku, penyemangatku, adrenalin dalam darahku.

Dan ingatkah kau? malam itu, aku bercerita padamu, semuanya, kuungkapkan semua kebusukan ku, kuakui dosa dan salahku, dan aku pun meratapi diammu. Harusnya kau marah! Harusnya kau menamparku! Tapi mengapa kau diam? Bahkan melirikku saja tidak!

Maaf ayah, aku sering kali mengganggu tidur nyenyakmu, dan terimakasih kau tak pernah marah akan hal itu.

¤

Seketika hujan berhenti. Alam pun mulai tenang. Angin pun terdiam. Seakan khidmat mengikuti alunan rindu. Aku dan ibu tersenyum. Senyuman air mata penuh doa agar dia tenang disana.

¤

love you, and very miss you

Ayahku

Hari ini aku baru mengetahui, bahwa kanker yang diderita ayahku telah mencapai stadium 4. Terima kasih atas semua kebohongan yang menenangkan hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s