Menjadi Usahawan Adalah Pilihan, Bukan Keharusan

Dari sekian banyak jenis pekerjaan di masyarakat, berdagang (wiraswasta, atau memiliki usaha sendiri) adalah salah satu profesi yangsangat diapresiasi dalam Islam. Dengan berdagang atau berwiraswasta, insyaAllah diri kita akan menjadi mulia. Tentunya dengan catatan bahwa usaha atau bisnis yang kita jalankan itu bernilai ibadah, mengharap ridho Allah SWT semata. Dengan menjadi seorang pemilik usaha dan bukan karyawan, kita bisa membuka lapangan pekerjaan baru di masyarakat. Hal ini menjadikan kita kuat tidak hanya (insyaAllah) dari sisi ide dan finansial, namun juga kemandirian. Rasulullah sendiri pernah menjadi seorang pedagang di jamannya.

Sebuah hadits shahih berujar, muslim yang kuat lebih disukai daripada muslim yang lemah.

Seorang pemilik usaha akan dituntut untuk terus berinovasi dalam memajukan bisnisnya. Ini menjadikan akal pikirannya akan senantiasa fresh karena terus bermunculan ide-ide baru. Yang menarik, pelaksanaan ide-ide itu bisa diwujudkan sesuka kita, tanpa ada yang merintangi atau membatasi. Jauh daripada itu, kegairahan serta semangat yang meluap-luap itu seringnya akan berhasil diwujudkannya dalam hidup keseharian dalam bentuk aksi dan karya nyata, karena keyakinannya sangat tinggi.

Seseorang yang sedang dirasuki semangat wirausaha yang super tinggi, rasa percaya dirinya sangat besar, serta tahan banting dan cemooh. Apalagi hanya sekedar gunjingan kanan kiri, rasanya yang seperti itu bakalan lewat. Anjing mengonggong kafilah berlalu.

Ada sebuah hadits yang menjadi pelecut semangat bagi seseorang untuk segera beralih dari seorang karyawan menjadi usahawan: 9 dari 10 pintu rejeki adalah berdagang. Coba bayangkan, luar biasa bukan? Walaupun sebagian ulama menganggap kedudukan hadits ini tidak begitu kuat, namun setidaknya pesan moral yang dikandungnya sangatlah tinggi.

Berdagang disini bisa berarti berdagang apa saja. Berdagang barang, jasa, ide, dan sebagainya. Yang jelas, penekanan utamanya adalah kita sendiri yang memegang kelangsungan hidup usaha itu, alias sebagai pemilik. Dengan menjadi pemilik sebuah usaha, maka kita bisa dikatakan telah membantu negara dengan salah satu contohnya membantu membuka lapangan kerja. Kita bisa memperkerjakan mereka dan menggajinya. Bukanlah ini adalah hal mulia? Tangan diatas (memberi gaji) selalu lebih baik daripada tangan dibawah (menerima gaji).

Oleh karena itu, dilihat dari derajat kemuliaan, bisa jadi seorang tukang bakso kemuliaannya lebih tinggi dari seorang menejer perusahaan, misalnya. Apa pasal? Tukang bakso itu bisa menggaji karyawannya tiap bulan (misal, tukang cuci piringnya), sementara menejer itu hanya mampu menerima gaji tiap bulan. Karenanya penting bagi kita untuk senantiasa jangan GR, bahwa bekerja di sebuah gedung jangkung mewah yang senantias ber air  sebagai karyawan berdasi. Tetaplah rendah hati dan jangan sombong. Karena bisa jadi, lewat ilustrasi contoh diatas, pedagang asongan di pintu pagar gedung kantor Anda jauh lebih mulia.

Hanya saja, hadits diatas janganlah dianggap sebagai harga mati bahwa berdagang adalah yang terbaik. Ingat, ada hadits ‘pembanding’ Rasulullah yang mengatakan “Kalau sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahli, maka tunggulah kehancurannya.”.

Menjalankan sebuah bisnis (misalnya baju muslim, minyak wangi, atw toko jamu) memerlukan keahlian tersendiri. Memerlukan kesabaran, kompetensi serta keberanian dalam menanggung resiko.

Seorang karyawan yang kurang sabar dalam memupuk kekayaan materi, tidak bisa dipaksa untuk menjadi pengusaha yang ulet. Pikirannya biasanya sangat cetek (dangkal) : jadi karyawan saja biar akhir bulan nanti langsung dapat gaji. Seorang pengusaha tidak bisa berpikir seperti itu. Pikiran seorang pengusaha jauh melampaui hitungan hari atau bulan. Hitungannya sudah tahunan, dan kadang malah tidak berujung. Raksasa rokok Sampoerna misalnya, boleh jadi pendirinya sudah meninggal dunia, tapi penerusnya tetap berhasil menjaga pemikiran empunya sehingga usahanya masih terus bercokol hingga sekarang.

Demikian juga mengenai kompetensi. Tidak semua orang bisa segera menjadi ahli, misalnya, dalam hal menawarkan sesuatu. Jika perdagangan identik dengan menawarkan sesuatu, seorang yang berlatar belakang pekerjaan di belakang meja  kadangkala sangat sulit disuruh menawarkan sebuah produk. Jangan memaksa seseorang untuk menangani sebuah urusan, kalau dia sekiranya memang tidak atau belum ahli menanganinya.

Keberanian? Menjadi usahawan sudah pasti butuh keberanian. Keberanian menanggung rugi, menjadi melarat, dimaki orang, diremehkan dan dicemooh orang, adalah bagian dari resiko keseharian seorang pemilik usaha. Di Indonesia masih banyak warganya yang penakut. Dengan indikasi sangat sedikit yang berprofesi sebagai usahawan dan cukup merasa nyaman menjadi karyawan.

Oleh karena itu, kita harus bijaksana. Menjadi usahawan bukanlah keharusan. Menjadi usahawan adalah pilihan. Namun, ini adalah sebuah pilihan yang memang betul-betul sangat dianjurkan untuk dipilih. Sebuah pilihan yang insyaAllah apabila kita kuat mewujudkannya, maka kemuliaan jauh lebih tinggi yang akan kita raih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s